SELAMATKAN KARST GUNUNGKIDUL

By PANGGIH WIDODO - 22.31



 Design :BELIEVE ART

Kita memiliki kawasan karst yang sangat unik dan indah, yang diam-diam sedang dihancurkan oleh para pengusaha tambang dan penambang. Namun untunglah, Bupati Gunung Kidul segera bertindak dengan mengeluarkan surat penghentian dan pelarangan penambangan di Kawasan Karst Gunung Sewu. Tapi, tentu saja pengusaha tambang dan penambang tak mau diam begitu saja. Mereka terus menekan Bupati Gunung Kidul agar mencabut surat keputusannya tersebut.
Berikut ini adalah tulisan mengenai Kawasan Karst Gunung Sewu itu, yang ditulis oleh Cahyo Rahmadi pada situs Indonesian Caves Life, agar Anda punya gambaran tentang potensi apa yang ada di kawasan yang telah diusulkan oleh International Union of Speleology, pada 1993, agar Kawasan Karst Gunung Sewu dijadikan Kawasan Bentukan Alam Warisan Dunia (World Natural Heritage) itu.

POTENSI SUMBER DAYA NIRHAYATI
Gunung Sewu menyimpan potensi gua yang sangat besar. Ratusan gua yang tersimpan didalamnya mempunyai keindahan dan keunikan yang cukup besar. Sistem gua yang unik dan kompleks juga ditemukan di sini. Gua terpanjang di Jawa pun terdapat di Gunung Sewu yaitu sistem Gua Jaran yang konon panjangnya mencapai 20 km, yang terletak di daerah Pacitan. Keindahan di dalamnya pun tidak kalah dengan gua-gua yang ada di Sulawesi bahkan di luar negeri. Sistem lain yang juga tidak kalah menarik adalah sistem Kali Suci yang merupakan sungai permukaan yang masuk ke dalam gua dan bermuara di Pantai Selatan. Di sepanjang sungai bawah tanah ini ditemukan fenomena unik yaitu terdapat cekungan-cekungan akibat atap gua yang runtuh seperti Luweng Gelung, Luweng Grubug dan Gunung Bolong. Kedalaman gua mencapai puluhan bahkan ratusan meter. Sistem gua yang unik ini mempunyai nilai ilmu pengetahuan yang tinggi.
Bentukan bentang alam yang khas dengan bukit-bukit kapur atau lebih dikenal dengan “conical hills” merupakan fenomena langka yang tidak banyak ditemukan di belahan bumi lain. Para peneliti luar negeri yang mempelajari geomorfologi banyak melakukan penelitian di kawasan ini.






POTENSI SUMBER DAYA HAYATI
Potensi sumber daya hayati di kawasan karst Gunung Sewu sampai saat ini belum banyak terungkap. Hal ini disebabkan minimnya kegiatan penelitian hayati di kawasan ini. Beberapa catatan penelitian fauna gua banyak ditemukan di literatur-literatur berbahasa Belanda. Beberapa tahun terakhir dilakukan penelitian tentang keanekaragaman hayati namun tidak banyak yang dipublikasikan. Hal ini menyebabkan potensi Gunung Sewu tidak banyak diketahui dibandingkan kawasan karst lain seperti Nusakambangan Jawa Tengah, Maros Sulawesi Selatan dan Pegunungan Sewu Sumatra. Namun penelitian tersebut banyak dilakukan oleh peneliti asing khususnya Perancis.
Kekayaan fauna gua di perairan bawah tanah yang tercatat adalah ketam gua yang ditemukan di Gua Ngingrong dan Gua Jomblang yaitu jenis Sesarmoides jacobsoni yang konon merupakan ketam yang telah teradaptasi dengan lingkungan gua. Ketam lain yang bukan merupakan ketam gua namun ditemukan di dalam gua adalah Parathelpusa convexa yang ditemukan di Gua Jomblang daerah Bedoyo. Beberapa jenis udang gua juga ditemukan di Gunung Sewu yaituMacrobrachium poeti yang ditemukan oleh tim Inggris pada saat eksplorasi gua di kawasan ini, udang dideskripsi oleh Holthuis pada tahun 1984. Jenis udang lain yang bukan udang gua yang ditemukan di perairan dalam gua adalah Macrobrachium pilimanus yang juga ditemukan di gua-gua Sumatra. Beberapa udang juga ditemukan oleh mahasiswa pecinta alam Fakultas Biologi (Matalabiogama) di sebuah gua vertikal di daerah Panggang Gunung Kidul namun belum teridentifikasi diduga dari marga Macrobrachium. Dari kelompok vertebrata yang menghuni perairan bawah tanah di Gunung Sewu salah satunya adalah ikan gua dari jenis Puntius micropsyang diduga masih sejenis dengan Puntius binotatus yang banyak ditemukan di sungai permukaan. Puntius microps ditemukan di sungai bawah tanah di Gua Jomblang. Penelitian tentang ikan gua telah banyak dilakukan oleh mahasiswa anggota Matalabiogama, Fakultas Biologi UGM yang meneliti tentang perbandingan struktur retina ikan gua dengan luar gua (Arianto, 1999), perbandingan struktur sisik ikan gua (Rinawati, 2000), morfologi ikan gua (Budihardjo, 2002) bahkan akan dijajaki untuk mempelajari DNA-nya. Ikan gua yang diduga dari jenis Puntius sp. ditemukan di danau bawah tanah di kedalaman 100 meter yang mempunyai populasi sangat kecil. Potensi fauna di perairan bawah tanah Gunung Sewu masih belum banyak terungkap mengingat banyaknya gua dengan sungai bawah tanah yang berjumlah ratusan. Sehingga, peluang untuk menemukan jenis baru masih sangat terbuka lebar.
IstimewaFauna terrestrial juga masih menyimpan potensi yang belum terungkap. Dari catatan di Enciclopaedia Biospeologica: Indonesie terdapat jenis isopoda gua yaitu jenis Javanoscia elongata (Schultz, 1985) dan Tenebrioscia elongata (Schultz, 1985). Dari hasil inventarisasi sekilas pada tahun 2000 didapatkan jumlah fauna gua yang telah teradaptasi cukup tinggi. Dari survey di tiga gua didapatkan 4 jenis troglobit yaitu Nocticola sp. (Blattodea), Schizomida sp. (Arachnida),Pseudosinella sp. (Collembola) dan Cambalopsidae sp. (Diplopoda) (Suhardjono et al. 2001). Sedangkan penelitian arthropoda gua di Gunung Sewu banyak dilakukan oleh mahasiswa pecinta alam fakultas Biologi UGM namun juga tidak banyak yang dipublikasikan. Fauna terrestrial di kawasan ini masih belum banyak yang terungkap karena gua yang belum diteliti juga masih cukup banyak.
Gua-gua di Gunung Sewu juga dihuni oleh koloni kelelawar yang juga menghasilkan guano yang cukup banyak. Fauna yang hidup di dalam guano pun juga belum ada yang diteliti. Namun penelitian tentang kelelawar penghuni gua telah dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Biologi Matalabiogama (1999), Erlamsyah (2000) dan Santoso (2001), serta Fajria (2002) sebagai penelitian skripsi. Dari penelitian tersebut menunjukkan kekayaan yang cukup tinggi. Namun keterbatasan pengetahuan secara taksonomi masih menyebabkan belum terungkapnya jenis-jenis baru yang dimungkinkan ditemukan di kawasan ini.
Pemanfaatan air di dalam gua juga akan mengancam kelestarian kualitas air dan kehidupan yang ada di dalamnya. Pemanfaatan air yang ada di gua untuk mandi dan cuci akan meningkatnya polusi air jika tidak dimanfaatan secara bijaksana. Di Gua Sodong Mudal di Pracimantoro, air yang masuk ke dalam gua digunakan untuk mandi dan cuci namun sampah plastik dan sebagainya dibiarkan beserakan dan menimbulkan bau dan air yang berwarna hitam. Air yang sudah tercemar ini akan terus masuk ke dalam gua dan mengancam keberadaan fauna yang tergantung padanya.


                                                                    Foto : Gogle


Dan berikut ini adalah Surat Dukungan dan Pernyataan Sikap Kebijakan Pengelolaan Kawasan Karst di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.
 
Kabupaten Gunung Kidul merupakan salah satu dari lima kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakrta, dengan luas wilayah sekitar 1.485,36 Km atau sekitar 46% dari keseluruhan luas wilayah Yogyakrta. Wilayah Gunung Kidul juga dikenal sebagai kawasan pegunungan seribu atau Kawasan Karst Pegunungan Sewu. Kawasan ini mempunyai bentang alam yang khas yang terbentuk oleh proses pelarutan batuan kapur selama ribuan tahun. Kawasan Karst Gunung Kidul  merupakan kawasan Karst Tropik yang ditandai dengan adanya bukit-bukit Karst berbentuk kerucut (conical limestone), kubah (doline) lembah-lembah (polije) serta adanya gua-gua dengan sungai bawah tanah yang mengalir dibawahnya  dihiasi  dengan stalaglit dan stalagmitnya.
Pada tahun 1993 International Union of Speleology telah mengusulkan Kawasan Karst Gunung Sewu sebagai kawasan Bentukan Alam Warisan Dunia (World Natural Heritage). Luas Kawasan Karst Gunung Kidul mencapai 13.000 km2 dengan jumlah bukit kerucut  mencapai 4000 buah, lembah-lembah, telaga karst serta  terdapat 119  buah gua karst.
Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) telah dijelaskan bahwa bentang alam karst termasuk dalam kawasan cagar alam geologi, oleh karena itu dapat disebut kawasan lindung geologi sehingga Surat Edaran Bupati Nomor 540/0196 tertanggal 7 Februari 2011, untuk melakukan penghentian  kegiatan penambangan di kawasan karts sudah sudah sesuai dengan kebijakan yang ada. Hal ini juga di perkuat dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pasal 37 bahwa setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pemanfaatan ruang dilarang menerbitkan izin yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dapat dikenakan sangsi.
Selain daripada itu Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Gunungkidul tahun 2010-2030 masih dalam proses pembahasan sehingga belum dapat diberlakukan. Untuk itu pengelolaan kawasan karst sudah sepantasnya menunggu dari hasil rencana tata ruang daerah Kabupaten Gunung Kidul.
Untuk itu menanggapi tuntutan dan desakan para pekerja tambang  dan para pengusaha tambang  yang  berada di Kabupaten Gunung kidul, untuk mendesak  bupati mengeluarkan Izin Penambangan di Kawasan Karst maka kami dari WAHANA LINGKUNGAN HIDUP (WALHI) YOGYAKARTA menyatakan sikap:
1. Proses penambangan  yang dilakukan di Kawasan Lindung Geologi merupakan upaya penghancuran potensi wisata yang merupakan peninggalan peradaban manusia  yang tidak mungkin didaur ulang.
2. Proses Penambangan juga merupakan upaya pengahancuran  secara sistemik pada Kawasan Lindung Geologi yang dilakukan oleh para pemburu rente demi kepuasan kelompok dan golongan tanpa memperdulikan dampak yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
3. Mendukung penuh pemerintah Kabupaten Gunung Kidul untuk TETAP tidak mengeluarkan Izin Penambangan di Kawasan Karst walaupun dalam penuh tekanan dari banyak pihak.
4. Meminta Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan dukungan penuh kepada kebijakan Bupati Gunung Kidul dalam upaya pengelolaan dan penyelamatan kawasan karts dari ancaman kerusakan dan eksploitasi.
5. Meminta Menteri Negara Lingkungan Hidup memberikan asistensi serius kepada pemerintah kabupaten Gunung Kidul dalam upaya mendorong indeks pengelolaan kawasan karts yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Kita memang bisa saja bersikap enggan atau tak peduli. Namun bukankah kita tak ingin mewariskan puing-puing kepada anak-cucu? Dan puing-puing itu bukan berasal dari ulah kita, melainkan karena kita membiarkan orang lain menghancurkan dunia kita. Apa kita lebih memilih begitu?



Sumber : http://www.tnol.co.id/info-bencana/9936-selamatkan-gunung-sewu-lindungi-kawasan-karst-dunia.html

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar